Selamat dan Sukses Musyawarah Kerja PCNU Kota Depok, 19-20 Oktober 2019 dan Sukseskan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2019

Rapat Pleno PBNU 2019



Wakil Presiden terpilih, membuka Sidang Pleno PBNU 2019 di Ponpes Al Muhajirin Purwakarta
Purwakarta(20/9/19)-Pembukaan sidang Pleno PBNU yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Muhajirin Pimpinan KH. Abun Bunyamin, hari ini dibuka oleh Wakil Presiden terpilih Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin.
Acara Pembukaan sidang Pleno ini, diawali dengan sambutan-sambutan, pertama oleh pimpinan Pesantren Al Muhajirin, kang Dedi Bupati Purwakarta, kang Emil Gubernur Jawa Barat, dan Ketua Umum PBNU, Prof Dr. KH. Said Aqil Siradj, diakhiri dengan Nasihat oleh Rois Aam PBNU, KH. Miftahul Akhyar.
NU memang tidak meminta jabatan, tapi kami akan merampas kembali jabatan, tapi ketika ikhlas jabatan itu diberikan orang, orang itu menggunakannya untuk memukul NU, menyepelekan NU, dan apa yg akan kami lakukan bukan untuk pribadi, tapi demi berlangsungnya paham Ahlussunnah wal Jamaah di Negeri tercinta ini, demi Bangsa dan negara ini, demi Umat, demi NKRI". Ujar Rois Amm PBNU dihadapat Ribuan kaum Nahdliyyin yang hadir memenuhi areal Pondok Pesantren.
Dalam sambutannya wakil Presiden terpilih Prof. Dr. KH. Maruf Amin mengatakan, "NU harus tetap dalam kerangka menjaga Agama, dan menjaga Negara, Masyarakat harus terus diberikan pemahaman tentang ajaran Aswaja, jikalau ini tidak dilakukan, akan sangat berbahaya bagi agama dan Bangsa ini kedepan, ujar beliau.
Pilar-pilar Kebangsaan harus dijaga agar tidak terjadi kegaduhan, Khilafah itu Islami, seperti Khilafah pada masa Daulah Bani Abbasiyah, tapi Islami tidak harus Khilafah, sistem Republik juga termasuk Islami.
Di Indonesia sistem Khilafah bukan ditolak, akan tapi tertolak, dan Indonesia adalah Darun Misyaq.
Begitu juga dengan Pendidikan Akhlak untuk Generasi yang akan datang, termasuk dalam mempersiapkan Generasi unggu dan maju.
Untuk menandai dibukanya rapat Pleno PBNU 2019 hari ini, Wakil Presiden terpilih sebagai simbolisasi membuka dengan memukul bedug.
*Lima Rekomendasi Syuriah untuk PBNU*
1] Perlu pikiran prima menjaga keberlangsungan beasiswa kader NU, untuk itu perlu ada lembaga khusus mengelola Beasiswa
2] Singkatan AHWA berkonotasi negatif oleh pihak luar, perlu menggantinya dengan term ‘Ahli Halwa’
3] Menjelang Muktamar 34, PBNU harus segera menyaring Ahli Halwa dg melibatkan Mustasyar dan membuat panduan untuk PCNU agar terkesan tidak politis
4] Pemilihan ketum PBNU dilakukan melalui Ahli Halwa. Sebagaimana keputusan yang ada tentang mekanisme kepemimpinan NU.
5] Muktamar 34 NU diharapkan bisa mengangkat dan membahas isu Nasional, seperti Radikalisme di BUMN, konsep Wathaniyah menurut NU, dan maraknya Narkoba.
_Purwakarta, 20 September 2019_
*KH. Miftachul Akhyar*
Rois ‘Am PBNU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar